Bagi sebagian perempuan, pernikahan seringkali dianggap sebagai satu-satunya cara menghilangkan kesengsaraan dalam hidup, terutama terkait dengan persoalan ekonomi keluarga. Mencari pasangan yang mapan, menerima dinikahi meski tanpa legalitas hukum, menjadi solusinya. Pernikahan siri banyak terjadi pada perempuan yang mendamba hidup nyaman dengan kemewahan.
Konsep pernikahan semacam ini menjadi akar masalah banyaknya kasus kekerasan terhadap perempuan, korban dari pernikahan siri, demikian papar EL, pemerhati masalah perempuan.
Kondisinya, banyak perempuan yang masih harus diarahkan hidupnya. Pola asuh dalam lingkup budaya yang mengkondisikan perempuan untuk hanya tahu kewajiban tanpa paham hak-haknya, menjadi akar persoalan lainnya.
Menurut EL, banyak perempuan yang berasal dari keluarga dengan minim akses pendidikan, akhirnya memiliki konsep pernikahan sebagai solusi persoalan hidup. Nikah siri lantas dianggap jalan pintas, tanpa peduli haknya sebagai istri dan perempuan.
Padahal, perempuan perlu lebih banyak tahu tentang haknya. Meski pola pendidikan sejak kecil membentuk dirinya untuk fokus pada kewajiban, perempuan harus membangun dirinya dengan fondasi yang lebih kuat. Bahkan perempuan yang berpendidikan pun lemah fondasinya dalam kaitannya dengan konsep hidup bergelimang harta.
"Dibutuhkan kemandirian pada diri perempuan, konsep hidup sederhana, mencari solusi bersama ketika mendapati pasangan berpenghasilan seadanya, berdaya atas dirinya, dan membantu ekonomi keluarga. Kesadaran akan hak dan kewajiban sebagai istri dan perempuan harus tersosialiasi dengan baik," kata EL.
Persoalan ketidakadilan terhadap perempuan banyak terjadi dalam bentuk kekerasan, seperti fisik hingga seksual. Pengacuhan hak perempuan dan ketidaktahuan perempuan akan haknya menjadi akar masalah ketidakadilan ini. Perempuan kebanyakan menjadi korban dari berbagai kasus kekerasan.
Berbagai pelayanan pendampingan korban memang turut membantu korban memulihkan dirinya. Namun dibutuhkan waktu untuk membantu korban melewati terapi, konseling kesehatan, hingga psikologis bahkan psikiatris, hingga akhirnya korban bisa hidup mandiri.
Nikah Siri: Perempuan Perlu Tahu Hak-haknya
Jumat, 07 Mei 2010 Filed under : Pendapatan, Pengeluaran, Wanita by Tips CantikPerempuan Berhak Memberdayakan Diri
Selasa, 04 Mei 2010 Filed under : Pendapatan, Pengeluaran, Wanita by Tips CantikTak sedikit perempuan yang masih tak berkuasa atas dirinya, dan menggantungkan nasib pada orang lain. Namun, banyak juga perempuan yang mampu berdaya atas dirinya, meski kadang dihadang banyak persoalan, termasuk urusan personal atau domestik. Lantas apakah perempuan kehilangan haknya menjadi berdaya, tampil di ruang publik misalnya?
Sebagai refleksi, Inayah Wulandari Wahid, putri bungsu Abdurrahman Wahid atau Gus Dur, mengutip kata-kata inspiratif dari sang ayah. Tak pernah ada hambatan, dan yang menjadi hambatan adalah diri sendiri, maka berdayakanlah diri sendiri. Hal ini berlaku untuk perempuan maupun lelaki.
"Baik ibu maupun kami putri-putrinya selalu didukung dalam setiap kegiatan kami. Terutama ibu (Sinta Nuriyah, RED) yang memiliki aktivitas pemberdayaan kaum perempuan. Jika kami harus meninggalkan rumah, itu menjadi resiko yang harus ditanggung, dan kami tetap didukung," tutur Inayah kepada Kompas Female, usai menghadiri acara "A Tribute to Gus Dur" sebagai rangkaian acara memperingati Imlek "The Spirit of Prosperity" di Mal Ciputra Jakarta, Rabu (10/2/2010).
Semasa hidupnya, Gus Dur menjadi pendukung kegiatan Inayah dan semua perempuan dalam keluarganya. Bahkan Gus Dur terang-terangan mengakui terinspirasi oleh kaum perempuan, demikian papar Inayah.
"Seminggu sebelum wafat, Gus Dur membaca buku tentang ratu Skotlandia, dan dia berkata kepada saya untuk terus belajar. Gus Dur tidak malu belajar dari perempuan," papar Inayah.
Belajar, berdaya dengan dirinya, dan menjadi pemimpin merupakan hak dan kesempatan yang juga ada pada diri perempuan. Hal inilah yang tertanam dalam diri Inayah.
Terilhami dari pengalaman personal Inayah, seharusnya kaum perempuan mampu mengatakan dengan lantang, bahwa ia memiliki hak atas dirinya. Pemahamannya adalah, bahwa kaum perempuan pun punya hak yang sama untuk mengambil keputusan, menjadi pemimpin, bekerja untuk dirinya dan orang lain, atau berperan dalam ruang publik apa pun bentuknya. Karena hanya dengan cara itu hambatan dalam diri, yang seringkali membuat perempuan tak berani berbicara sekalipun, bisa terbongkar.
Contoh sederhananya, sudahkah Anda sebagai perempuan berani membuat keputusan (apapun persoalan Anda)? Jika belum, ini pertanda ada sebagian diri Anda yang tak berdaya. Bongkar saja hambatannya karena Anda punya hak untuk itu.
Wanita Karir
Blogroll
Category
- Baju Hamil (1)
- Bisnis Online (1)
- Busana Muslim (1)
- Cinta Sejati (1)
- Jaket Kulit Campuran (1)
- Karir (8)
- Memulai (5)
- Obat Herbal (1)
- Pendapatan (8)
- Pengeluaran (5)
- Tips (3)
- Tutorial blog (1)
- Wanita (16)
